Status Gunung Slamet jadi Waspada, Mei 2014

Status Gunung Slamet yang terletak di kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal dan Brebes di Jawa Tengah telah dibangkitkan untuk Peringatkan Tingkat II karena aktivitasnya meningkat.

"Kegiatan Gunung Slamets meningkat sehingga statusnya bahayanya telah dibangkitkan untuk Peringatkan Tingkat II," kata juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyatakan di Jakarta, Rabu.

Dia menunjukkan bahwa telah terjadi 30 gempa tremor dan 67 orang lain yang disebabkan oleh asap yang keluar dari gunung berapi. Asap putih, coklat dan abu-abu tebal juga terlihat mengepul hingga 150-700 meter. Sebanyak 26 booming terdengar dan lahar panas terlihat mengalir 1.500 meter dari ujung gunung. "Secara umum, intensitas dan frekuensi letusan Gunung Slamets telah meningkat," jelasnya.

Dia menambahkan bahwa pemerintah telah merekomendasikan pemerintah daerah untuk mengevakuasi daerah dalam radius empat kilometer dari puncak gunung. "Mountaineering, berkemah dan kegiatan wisata lainnya dalam radius tidak diperbolehkan," tegasnya.

Dia menegaskan bahwa orang harus tetap waspada dan memantau perkembangan aktivitas gunung. Dia menyatakan bahwa BNPB juga meminta orang-orang untuk mengikuti arahan yang direkomendasikan oleh pihak yang berwenang khususnya yang berkaitan dengan zona bahaya. "Kegiatan Masyarakat harus disesuaikan dengan rekomendasi dan harus dibatasi di dalamnya," tegasnya.

gunung slamet 2014
Dia menjelaskan bahwa BNPB terus melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait, terutama pemerintah daerah berkaitan dengan memantau perkembangan statusnya pegunungan. Badan Geologi Bencana Pengembangan Teknologi dan Pusat Penelitian (BPPTKG) Yogyakarta pada hari Rabu juga mengangkat status Gunung Merapi (dari Normal menjadi Waspada Level II), karena peningkatan aktivitas gunung berapi.

Kepala Yogyakarta BPPTKG Subandriyo menjelaskan bahwa gunung berapi, yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Sleman, Yogyakarta, tercatat 20 gempa frekuensi rendah pada Selasa (April 29), yang diduga sebagai indikasi aliran gas vulkanik meningkat yang memiliki potensi untuk meletus.

"Pada hari yang sama, beberapa booming keras juga terdengar sampai radius delapan kilometer dari puncak Gunung Merapi," Subandriyo mengingatkan. Pada periode antara April 20 dan 29, ada 37 guguran, 13 tremor multifase, empat ledakan atau ledakan, 24 tremor tektonik, dan 29 getaran frekuensi rendah di gunung berapi.

Karena peningkatan status gunung, ada hiking atau mendaki akan diizinkan, kecuali untuk penelitian atau bekerja mitigasi bencana. "Kami juga telah meminta warga di sekitar lereng Gunung Merapi untuk tidak terprovokasi oleh rumor tentang letusan gunung berapi selain mengikuti instruksi dari otoritas lokal saja," tegasnya.

Belum ada perintah evakuasi dari otoritas di status gunung berapi saat ini. The BPPTKG Yogyakarta akan mengintensifkan pengamatan di Gunung Merapi menyusul aktivitas vulkanik yang meningkat. Ledakan utama terbaru dari gunung berapi paling aktif di Indonesia terjadi pada tahun 2010. Lebih dari 350 ribu orang dievakuasi dari daerah yang terkena dan setidaknya 353 tewas dalam letusan.